Tidak Harus Pintar untuk Berbuat Kebaikan

Manusia sebenarnya sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang berbahaya mana yang tidak, mana yang melanggar aturan mana yang sesuai aturan. 
Misal disebarkan sebuah angket atau soal ada pertanyaan : 
"Durhaka kepada kedua orang tua merupakan perbuatan baik atau buruk?" tentu jawabannya perbuatan buruk
"Apakah berbohong itu benar?" tentu jawabannya berbohong itu tidak benar
"Setujukah Anda bahwa perbuatan korupsi itu melanggar hukum dan patut dihukum?" tentu jawabannya "Ya, saya setuju"
Pendek kata manusia sebenarnya sudah tau apa yang seharusnya dilakukan tanpa harus pandai, pintar, paham pendidikan moral, paham agama sampai punya titel Lc, Prof., Kyai, Ustad, dll. Tidak perlu pendidikan yang tinggi untuk mengetahui jawaban soal-soal diatas.

Namun perhatikan, misalkan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dilakukan pada saat test lowongan pekerjaan, atau test yang berhubungan dengan nilai prestasi kerja yang dilakukan oleh pihak perusahaan/instansi anda bekerja :
Apakah anda menyayangi orang tua anda? 
a) Sangat menyayangi 
b) Biasa-biasa saja
c) Tidak sama sekali 
Tentu jawabannya akan opsi a), walaupun pada kenyataan bisa jadi biasa-biasa saja, atau bahkan durhaka
Apakah Anda setuju dan pernah melakukan korupsi ?
a) Tidak setuju dan belum pernah
b) Setuju dan  pernah
Tentu jawabannya a) juga, walaupun pernah melakukan korupsi (apapun bentuknya)
Apakah hari ini Anda telah berbohong
a. Tidak
b. Ya
Jawabnya tentu a) tidak, walaupun pada saat menjawab soal 1 dan 2 berbohong semua.ngakak

Sebenarnya pada kasus terakhir, kenapa jawaban yang diberikan kebanyakan adalah kebohongan, karena jawaban itu bukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan atau kecerdasan. Namun lebih menitik beratkan pada untuk apa pertanyaan itu digunakan. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut digunakan untuk mengukur loyalitas, untuk penilaian kinerja atau yang berhubungan dengan pekerjaan dan status sosial maka jawaban yang diberikan adalah jawaban yang baik walaupun tidak sesuai dengan realitas sesungguhnya. Inilah yang disebut dengan salah satu ciri-ciri orang munafiq.

Ciri orang munafik adalah bila bicara dia dusta, bila dia berjanji tidak ditepati, bila berhadapan dengan musuh dia lari.

Maka di saat kita jumpai orang munafik mengatakan :
"Ini demi rakyat banyak" itu artinya "ini demi saya pribadi".
"Mari kita tingkatkan kesejahteraan rakyat" artinya "mari tingkatkan kesejahteraan saya pribadi"
"Mari bersama-sama berantas korupsi" artinya "Mari bersama-sama kita korupsi"
"Kita harus taat hukum" artinya "saya yang kebal hukum"
Bila orang munafik itu menempati jabatan atau posisi baru, seringnya akan mengatakan : 
"Saya akan meningkatkan kinerja" ya itu artinya tidak ada kinerja yang ditingkatkan.
"Tidak akan ada lagi koruptor yang duduk tenang pada kepemimpinan saya" bisa jadi artinya "koruptornya yang aman hanya saya saja" 

Selama yang menduduki jabatan publik, penentu kebijakan, diduduki oleh orang-orang Munafik, maka Kesejahteraan dan keadilan tidak akan pernah tercapai. Tidak harus pintar berbuat kebaikan, namun bisa jadi orang-orang pintar lah yang melakukan keburukan.


Note : ndak tau ni kok jadi serius....blogger-emoticon.blogspot.com darimana kata2 di atas aku sendiri juga heran...blogger-emoticon.blogspot.com  
        Memang Lintas Suara isinya suara-suara yang terlintas dipikiran dan di hati... blogger-emoticon.blogspot.compiece




















1 komentar:

Sasongko Bawono mengatakan...

sesungguhnya segala perbuatan tergantung dari niatnya, tidak harus pintar.

disebutkan di atas bahwa, ciri orang munafik adalah bila bicara dia dusta, bila dia berjanji tidak ditepati, bila berhadapam dengan musuh dia lari.
bila merujuk pada sumber aslinya, yaitu hadis, maka ciri pertama dan kedua sangat tepat. tapi ciri ketiga?
menarik. suatu bentuk kreativitas penulis. sebenarnya ciri ketiga adalah bila diberi amanah dia khianat. tapi oleh penulis (entah sengaja atau pura-pura tak sengaja, diganti bila berhadapan dengan musuh dia lari.

berkhianat adalah identik dengan melarikan diri dari tanggung jawab/amanah. sehingga amanah identik dengan musuh?
bisa saja benar. kenapa? karena amanah (jabatan juga amanah)harus dilaksanakan sepenuh hati, ikhlas, mengutamakan rakyat, bukan diri pribadi maupun kroni.
bagi orang-orang yang zuhud, mereka menolak amanah. bukannya tidak mau menjalankan, tapi khawatir atas resikonya jika tergelincir dalam korupsi dsb. jadi, buat meraka ini, lebih baik,,,,, cabuuuuutttt :-)

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails
Ada kesalahan di dalam gadget ini