Tukang Sapu Ikutan Ngeblog

Jangan lihat kulitnya, tapi lihat cantiknya... weleh... Mungkin yang lebih tepat "Jangan lihat orang itu dari kulit luarnya, tapi lihaaatlah.... ya lihat lihat lah... he he"
Begitulah peribahasa yang tepat untuk orang ini. Walaupun hanya seorang tukang sapu namun, tidak cuma sampah di jalanan yang dipahaminya. Dia berusaha untuk mengembangkan diri agar tidak menjadi katak dalam tempurung, mencoba membuka diri pada dunia (ketinggian kali ya...).

ilustrasi

Berikut adalah kisah perjalanan hidup seorang tukang sapu, dilahirkan dari orang tua yang berprofesi sebagai tukang sapu pula.

Kurang lebih delapan tahun semenjak lulus SMEA dia menjalani profesi sebagai tukang sapu. Karena saat itu  memang sulitnya lapangan pekerjaan, dan modal pendidikan yang hanya lulusan rata-rata umumnya di keluarga  ekonomi menengah ke bawah (hanya bisa sampai SMP/SMA), maka untuk mencari pekerjaan impian seperti dikantoran  sulit didapat (alesan... asline males golek gawean)

Perjalanan karirnya diawali sebagai kacung 'tukang ambil bola tenis' (sekitar tahun 1999). Namanya kacung ya... lari sana lari sini, untuk ambil bola yang keluar lapangan. Sekitar tiga jam menunggui orang main bola tenis, dan pendapatannya hanya 2.500,- (dua ribu lima ratus), pendapatan yang cukup besar bukan (kalau kursnya dolar!).
Seperti gambar di atas, walau hanya ilustrasi, namun dulu juga tiga lapangan berjajar. Pekerjaan ini hanya bertahan setengah tahun saja.

Profesi selanjutnya adalah sebagai tukang amplas pada seorang pengusaha mebel. Dari pagi sampai sore yang dihadapi adalah almari, meja dan kursi kayu jati. Untuk mengamplas lemari besar mendapat bayaran 5.000 (lima ribu), padahal untuk satu lemari belum tentu selesai dalam satu hari. Profesi ini hanya bertahan sekitar satu tahun saja, karena sang pengusaha bangkrut. Walhasil akhirnya, ya jadi tukang sapu... (sekitar tahun 2001) mengikuti jejak sang ayahandanya, sebagai pemulung dan tukang sapu. 

Ejekan, hinaan, dipandang sebelah mata udah biasa dijalaninya. Bahkan, pernah melamar seorang gadis, ditolak calon mertua gara-gara profesi yang dijalani ini.  Sang ayah gadis ini  seorang guru negeri, jadi malu kalau punya menantu tukang sapu. Yah... dia hanya menghibur diri, kalau itu belum jodohnya, dan  itu merupakan cobaan dari Allah. 

Kuliah Sambil Bekerja

Suatu ketika, sang tukang sapu bertemu seorang  guru yang sudah berumur 45 an lebih. Sang guru ini walau sudah berumur mendekati pensiun namun dia  bersemangat untuk belajar, dia melanjutkan kuliah S2. 
"Kamu itu masih muda, belum keluarga, berapapun hasilmu tapi kamu itu sudah bekerja. Untuk apa gajimu tiap bulan? Mendingan gajimu itu kamu gunakan untuk melanjutkan kuliah. Apa tidak malu sama yang tua begini..." Kata-kata inilah yang tidak bisa dilupakan olehnya. Kata-kata inilah yang membuatnya semangat untuk belajar, sehingga dia memutuskan untuk kuliah sambil bekerja.

Makhluknya kelihatan kan sob, yang sebelah kanan. Foto sekitar tahun 2004.... (kelihatan juga komputernya yang jadul, komputer 486, komputer andalannya waktu kuliah)

Kuliah sambil bekerja menjadi tukang sapu merupakan hal yang tidak mudah sobat... Bukan soal  kesulitan membayar kuliah atau susahnya mengikuti mata kuliah. Tidak semudah yang dibayangkan... karena lokasi jalan yang diembannya untuk dibersihkan tiap hari, adalah jalan yang berdekatan dengan kampus tempat dia kuliah. Artinya saat bekerja sering bertemu dengan teman kuliah atau dosen.
Mental yang diuji...  inilah kesulitannya... Wajar kan, karena masih muda (dagangan lagi, alias belum laku)... ketemu temen kuliah (apalagi cewek) pada saat ambil sampah di jalan... wuih beraaaat banget... kadang rasa malu atau minder menghinggapinya... (bayangke.... ketemu bolo kuliah, lagi nyekel sapu karo nyurung grobak... ck ck ck)


Disini lokasi biasanya dia buang sampah.


Karena sekitar tujuh sampai delapan tahunnan sebagai tukang sapu, tentu berbagai pengalaman telah ditemui. Pernah suatu hari, saat ambil sampah di pinggir jalan... ketemu adik kelas. Melihat tukang sapu ini hanya melongo dan tidak menyapa sama sekali... hanya bilang 'iih..' terus ngacir...
Lain lagi saat ketemu ama dosen yang bijaksana... "bagus-bagus... masih muda harus kerja keras" senyum sambil menepuk pundak si tukang sapu.


Foto tukang sapu ama temen seangkatan kuliah, sekitar tahun 2008, tahun awal-awal tubuh mau njebret alias gemuk



Kalau ini foto setelah wisuda, (ama temen satu kos, kelihatan kan... beda Toganya...). Umpama Jeli... dari logonya, pasti tahu dimana tukang sapu itu kuliah...



Nasib Berubah setelah lulus kuliah
Roda memang selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah.
Kesuksesan hidup (dalam hal dunia/materi) sebenarnya dari sisi mana kita memandang. Perlu kita memandang ke atas sebagai penyemangat untuk lebih maju. Namun jangan terlalu sering memandang kea tas, yang membuat kita kecil hati, atau merasa kurang dari apa yang telah kita miliki (tidak bersyukur). Seringlah melihat ke bawah, agar tumbuh rasa syukur. Namun hal ini juga jangan dijadikan alasan untuk malas, dan berhenti untuk berusaha.
Sobat...karena pendidikan yang didapatkannya, maka tukang sapu akhirnya dipindah pada bagian administrasi pada instansi yang sama. Artinya sekarang tidak turun ke jalan lagi, tidak berpanas-panas ria untuk membersihkan sampah di jalan. Entah karena beruntung atau faktor x ya...

Sobat, postingan ini kisah nyata namun bukan hasil wawancara, atau bersumber dari cerita orang lain. Tukang sapu yang ada di cerita ini, ya saya sendiri. Alias yang punya blog ini... he he he... 
Yaaa... it's me...Inilah profilku sebenarnya... seorang tukang sapu yang ikutan ngeblog.


Yowis... ngonolah critoku... sing jelas postingan iki skaligus dadi profil pemilik blog ini. Mugo2 ono manfaate... nek kakean crito, ndak ndarani nggambus...

3 komentar:

mieny_angel mengatakan...

boleh gak tak senggol dikit...abis tak panggil gak nyahut

Yuli Panca mengatakan...

Boleh donk mieny... kamu manggil aku lewat sedotan sih... jadi aku yang kagak ngarti... wkkk
Sebenernya aku habis cakit... jd jarang sekali online..

kurniafm mengatakan...

WELEH-WELEH.......

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails
Ada kesalahan di dalam gadget ini